admin on January 30th, 2015

Article for 10 days tomorow will use in english language, so that visitors who come from the United State can read easily…..

wait and see, i’ll be back… :-P

Tags:

admin on January 29th, 2015

Efek umpan balik

Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.

Efek-efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi infra merah balik ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.

Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.

Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.

Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.

*)Oke… kita tungu kelanjutannya……sebab ketiga…… dengan “Variation in The Sun”

Tags:

admin on January 29th, 2015
Oleh: Subhan SD

Terumbu Karang yang Indah...

Terumbu Karang yang Indah...

Jutaan tahun silam, ada daratan di Indonesia yang tidak pernah tersambung dengan daratan Asia maupun Australia. Kawasan itu berdiri sendiri. Keanekaragaman hayatinya (biodiversity) pun tak sama dengan dua benua itu. Itulah Kawasan Wallacea (Wallace Region).

Penamaan kawasan itu merupakan bentuk penghargaan kepada Alfred Russel Wallacea, peneliti Inggris yang menjelajahi pulau-pulau di Nusantara sepanjang tahun 1854-1862. Selama delapan tahun dia menjelajahi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara.

Dalam penjelajahannya itu, Wallacea mengumpulkan tak kurang dari 125.000 spesies flora dan fauna. Pemetaannya yang sampai kini menjadi kajian para peneliti adalah Kawasan Wallacea yang meliputi Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Laut Banda, Nusa Tenggara Timur, juga Timor Timur (Timor Leste).

Kawasan Wallacea ini sendiri terbentuk akibat tabrakan antara dataran Australia (Australia Plate) dan elemen-elemen geologis yang terbentuk dari pergerakan cepat dataran Pasifik (Pasific Plate) dan dataran Eurasia (Eurasian Plate). Pada zaman es (pleistosen) tatkala permukaan laut lebih rendah 100 meter dari kondisi sekarang ini, kawasan itu memang terpisah dari Asia dan Australia.

”Sekitar 53 juta tahun silam kawasan itu memang terpisah. Tidak masuk daratan Asia, dan juga tidak masuk Australia, tapi merupakan kawasan tersendiri. Secara demografi, flora dan fauna, misalnya antara Kalimantan dan Sulawesi itu tidak sama. Karena itu banyak yang endemik di Sulawesi, artinya tidak ada di tempat lain,” kata Dr Jamaluddin Jompa MSc, Koordinator Ekspedisi Wallacea II.

Sebut saja beberapa fauna endemik antara lain anoa, beragam jenis kupu-kupu, juga kera hitam (Maccaca maura). ”Yang jelas, masih banyak yang belum terungkap,” katanya. Tak heran sejumlah peneliti meyakini Wallacea sebetulnya lebih awal menelurkan teori evolusi, bukan hanya Charles Darwin. ”Ide awal teori evolusi itu dari Wallace. Cuma Darwin-lah yang lebih awal memublikasikannya,” kata Jamaluddin.

Tradisi keilmuan yang dirintis Wallacea sampai kini masih terus dipupuk. Tahun lalu Ekspedisi Wallacea I difokuskan untuk menjelajahi dan survei pulau-pulau di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, antara lain Kepulauan Spermonde dan Taka Bonerate. Tahun 2005 Ekspedisi Wallacea II pun sebagai kontinuitas ekspedisi sebelumnya.

Untuk program penelitian dan sekaligus pengembangan ke depan, Ekspedisi Wallacea II akan digelar pada 18-31 Juli 2005 dengan mengambil lokasi di Teluk Tomini, Provinsi Gorontalo, yaitu untuk meneliti kawasan laut di sepanjang wilayah perairan tersebut. Lebih fokus lagi adalah kegiatan penelitian mengenai kondisi terumbu karang. Karena, rata-rata kerusakan terumbu karang di Indonesia sudah sangat parah.

”Memang sasarannya adalah biodiversity dan coastal termasuk terumbu karang. Di Indonesia, rata-rata terumbu karang yang masih baik paling-paling hanya sekitar 25-27 persen. Di kawasan Wallacea paling-paling hanya 30 persen yang masih dalam kondisi baik,” kata Jamaluddin Jompa yang juga Direktur Pusat Penelitian Terumbu Karang Universitas Hasanuddin (Unhas).

Melihat kondisi itu, rasanya tak bijak jika cuma berpangku tangan. Harus ada upaya-upaya konkret untuk menyelamatkan terumbu karang oleh pihak-pihak yang ahli di bidangnya sehingga bisa menciptakan sebuah gerakan massal. Karena itulah, dengan ekspedisi tersebut, dengan sejumlah temuan dan hasil penelitian, diharapkan bisa menggugah masyarakat dan terutama pemerintah sebagai pemegang kebijakan.

”Dengan ekspedisi ini bisa ditumbuhkan public awarness, baik di tingkat masyarakat dan lebih-lebih di kalangan pemerintah,” kata Jamaluddin.

Penyelamatan terumbu karang juga diungkapkan ahli kelautan yang juga dari Unhas, Prof Winarni Monoarfa. ”Terumbu karang itu merupakan habitat biota laut, bukan hanya sebagai tempat berlindung, tetapi juga tempat mencari makan dan bertelur. Kalau terumbu karang itu rusak, seperti manusia yang kehilangan rumah. Dengan penyelamatan terumbu karang, maka produksi laut akan terjaga,” kata Winarni yang juga Kepala Badan Perencanaan Pengembangan Percepatan Daerah (Bapppeda) Provinsi Gorontalo.

Dengan fakta-fakta di lapangan, meskipun dengan kondisi dana yang boleh dikata sangat minim, Institut Wallacea yang dibentuk Desember 2004, tahun ini menggelar ekspedisi bersama Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) Departemen Kelautan dan Perikanan dan Pemerintah Provinsi Gorontalo. Obyek yang bakal diteliti adalah sumber daya alam hayati (terumbu karang, padang lamun, dan mangrove), oseanografi, potensi budidaya, perikanan tangkap, sosial-ekonomi masyarakat, dan geologi/geomorfologi.

Menurut Jamaluddin, dana yang tersedia minim sekali, yaitu hanya sekitar Rp 160 juta. Padahal, ekspedisi itu akan diikuti oleh 25 peneliti, terdiri dari perguruan tinggi, LSM, mahasiswa tingkat akhir, juga dua peneliti asing masing-masing dari Inggris dan Jerman. ”Sebetulnya ada 64 peneliti yang melamar (ikut ekspedisi). Tetapi karena dana yang minim, akhirnya kami batasi,” katanya.

Keindahan Terumbu Karang

Keindahan Terumbu Karang

Teluk Tomini
Pemilihan Teluk Tomini sebagai obyek ekspedisi tahun ini tentu tak lepas dari potensi yang dimiliki kawasan perairan itu. Berdasarkan hasil riset selama ini, Teluk Tomini merupakan perairan teluk terluas di Indonesia serta memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Teluk Tomini berada di wilayah tiga provinsi. Selain Gorontalo juga Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Karena itu, potensi perairan Teluk Tomini tentu menjadi sumber daya alam yang melimpah bagi tiga provinsi itu.

”Pentingnya ekspedisi ini adalah untuk melihat sejauh mana potensi Teluk Tomini dan nantinya akan dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat. Karena, kemiskinan masyarakat banyak terdapat di pesisir-pesisir. Untuk itulah, pengelolaan perikanan dan kelautan harus diselamatkan,” kata Winarni. ”Setidaknya ekspedisi ini bukan hanya untuk penelitian tetapi juga pengembangan wilayah minimal untuk kawasan Wallacea,” ujar Jamaluddin.

Untuk menggapai itu semua, tandas Winarni, diperlukan database mengenai potensi perairan Teluk Tomini sehingga nantinya bisa dilakukan pengelolaan secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. ”Jadi dengan database itu, kalau ada daerah-daerah yang rusak, tentu harus segera dilakukan konservasi,” katanya.

Pemerintah Gorontalo sendiri telah mengalokasikan anggaran khusus melalui APBD 2005 ini ratusan juta hanya untuk mendapatkan data detail potensi teluk tersebut. Sasaran ekspedisi di kawasan Teluk Tomini itu adalah kondisi ekosistem mangrove, kondisi ekosistem terumbu karang, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir.

Di Gorontalo, hutan mangrove tersebar di areal seluas 12.000 ha. Memang keadaan hutan mangrove yang cukup baik terdapat di pantai selatan Gorontalo, dengan jenis yang paling dominan adalah Xylocarpus sp dan Rhizophora mucronata. Masih ada jenis lain yaitu Avicennia alba, Avicennia marina, Brugeria gymnorhiza, Ceriops, Excocaria, Rhizophora apiculata, dan Rhizophora stylosa.

Ekosistem mangrove ini mempunyai peran penting, antara lain sebagai pelindung pantai, tempat makan berbagai jenis ikan dan burung, juga untuk mempertahankan kualitas air di kawasan pantai, serta produksi kayu.

Perhatian Serius
Obyek yang boleh jadi bakal mendapat perhatian serius adalah terumbu karang. Secara umum ekosistem terumbu karang di Gorontalo masih terbilang cukup baik, tetapi di sejumlah lokasi terlihat adanya kerusakan yang parah. Ini tak lain akibat penggunaan bom dan sianida yang dilakukan para nelayan saat menangkap ikan. Keadaan terumbu karang di kawasan pulau-pulau juga lebih baik dibandingkan dengan karang-karang di dekat pesisir pantai. Kondisi karang di daerah slope umumnya masih baik, sedangkan daerah reef flat mengalami kerusakan yang ditengarai akibat pengeboman dan penambangan batu karang.

Selain itu, ekspedisi ini juga akan menyasar masalah sosial ekonomi masyarakat pesisir. Pemanfaatan sumber daya alam pesisir dan laut didominasi kegiatan penangkapan ikan.

Hanya saja penggunaan alat tangkap yang destruktif, seperti penggunaan bom dan sianida, sudah biasa dilakukan oleh masyarakat.

Namun berkat upaya penyadaran dan penegakan hukum yang terus digencarkan, dalam dua tahun terakhir ini tampaknya penggunaan bahan-bahan berbahaya itu semakin berkurang. Masyarakat juga sudah mulai menyadari bahwa kegiatan penangkapan ikan dengan cara-cara destruktif seperti itu justru hanya mengurangi hasil tangkapan ikan.

Tags:

admin on January 28th, 2015

Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia” melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Temperatur rata-rata global 1850 sampai 2006 relatif terhadap 1961–1990

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

Anomali temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

Tags:

admin on January 28th, 2015

If you’ve ever been 5 miles from the trailhead with painful blisters, or even a sprained ankle, you will appreciate how much your hiking enjoyment rests literally on your feet. The selection of the correct hiking boots can be the difference between a great experience and a disaster. The choice of the right pair of boots can add considerably to your comfort and personal safety, especially in rugged or difficult terrain.

Before you start comparing the many brands and styles of hiking boot, consider the type of terrain and your style of hiking. Do you take extended treks through the mountains or just stroll through the local park or greenbelt? Select a boot based on the most difficult terrain you will encounter. Do you carry a heavy pack? The heavier the pack the sturdier boot you will need. Are you an all-weather hiker? Do you need a lightweight breathable fabric or a heaver waterproof material?

Modern hiking boots do not weigh as much as older styles. Lightweight high-tech materials have replaced the metal shanks used in older boots and modern fabrics offer many advantages. A lightweight boot can still offer plenty of support and be a lot easier on the feet over less rugged trails. Many of today’s top quality lightweight hiking boots offer a Gore-Tex liner that helps keep water out while still allowing your feet to breath. All-leather boots provide more support than the leather and fabric styles and they are easier to waterproof. They lend themselves to rocky terrain but they are heaver and less flexible. In my experience, leather boots will outlast the lighter styles, partly due to the heavier construction but also due to the fact that they have less seams which are always the weak point in any boot.

Have your feet properly measured and wear the type and thickness of sock you will be wearing on the trail when trying on boots. Boots should fit snugly but not too tightly. Remember they will become more comfortable with wear. Make sure they fit and provide support around your ankle and instep. You will need good ankle support, especially when carrying a pack. Hiking boots will never feel as comfortable as that old favorite pair of sneakers, but if you develop blisters or have pressure points, then you need a different boot. Look for boots with foam padding around the ankle and tongue for comfort. Removable inserts will help to fine-tune for a perfect fit.

If you wanna hiking don’t forget for this product, Akasaka is the best outdoor sandals ;-) so…be happy with them.

Once you’ve found the perfect pair of hiking boots, be sure to break them in slowly. Start with short walks around the neighborhood and progress to 3 or 4 hour hikes before that weeklong hiking vacation.

Marty is the editor of a number of websites including #1 Outdoor Gear.

This article may be freely reprinted in its entirety only if unaltered and the resource box is included with live links.

Tags: